Ericsson Vs Huawei: Siapa Bakal Jadi Kampiun 5G?

Ericsson Vs Huawei: Siapa Bakal Jadi Kampiun 5G?

Jakarta, Selular. ID – Ada banyak pemain di bisnis infrastruktur nirkabel. Tetapi terdapat empat vendor besar, yakni Ericsson, Nokia, Huawei dan ZTE. Sejak beberapa tahun terakhir, vendor-vendor itu bersaing ketat memperebutkan rekan terbesar di jaringan 5G.

Kita ketahui, 5G bakal menjadi standar baru teknologi selular masa depan. Sehingga memenangkan kontrak 5G, menjadi wajib hukumnya bagi vendor penyedia jaringan, agar bisa tetap bersaing di industri teknologi tinggi ini.

Dilansir dari laman PR News Wire (9/7/2020), pasar infrastruktur 5G ijmal bernilai USD 371, 4 juta pada 2017 dan diproyeksikan menyentuh USD 58, 174 miliar dalam 2025. Tumbuh pada CAGR 95, 8%, sepanjang 2018 – 2025.

Permintaan akan infrastruktur 5G di pasar global telah meningkat sebagai hasil dari perkembangan teknologi selular. Sejak diluncurkan dengan komersial pada awal 2019, 5G telah mencakup tiga jenis servis utama yang saling terhubung, yaitu IoT ( Internet of Things ), broadband selular, dan komunikasi kritis.

Kehadiran 5G akan meningkatkan sekali lalu memajukan pengalaman selular dengan kontraksi latensi, biaya per bit kecil, kecepatan data yang konsisten & lebih tinggi. Segmen lain, yaitu game real time, AR, VR, dan MR akan berdampak mulia karena penerapan 5G.

Dengan hanya melibatkan segelintir pemeran besar, struktur pasar industri jaringan cenderung bersifat oligopolis. Karena pemainnya tidak banyak, itu berarti semua vendor memiliki kesempatan yang persis untuk meraih kontrak 5G di seluruh dunia.

Pada kajian terbaru dari lembaga riset TrendForce, Huawei diperkirakan akan memimpin pasar mobile base station 5G ijmal pada tahun ini dengan total pangsa 28, 5%, naik sejak 27, 5% dibandingkan 2019.

Posisi kedua diduduki oleh vendor Swedia Ericsson, dengan bagian pasar 26, 5%. Namun perolehan itu turun dari pangsa pasar global sebesar 30% pada 2019.

Vendor asal Finlandia, Nokia diperkirakan hanya mencapai 22% pada 2020, turun dari 24, 5%. Begitu pun dengan vendor China ZTE diprediksi meraih pangsa pasar 5% tahun ini, turun dari 6, 5% dari tahun lalu.

Pertumbuhan pesat justru dinikmati oleh Samsung. Aksi pembatasan oleh AS dan sekutu-sekutunya terhadap Huawei, memberikan keuntungan untuk Samsung yang sebelumnya masih disebut sebagai anak bawang di industri jaringan. TrendForce memperkirakan, chaebol Korea tersebut mampu meningkatkan pangsa pasar jaringan 5G global, dari 6, 5% tahun lalu menjadi 8, 5% pada 2020.

Menunjuk pada laporan TrendForce itu, bersandarkan skala dan kehadiran pasar yang sangat signifikan, terlihat jelas bahwa Ericsson dan Huawei bersaing cermat dalam memperebutkan pasar 5G ijmal yang mulai tumbuh secara massif sejak tiga tahun terakhir.

Seperti apa rivalitas keduanya dalam memperebutkan pasar jaringan 5G? Mari kita kulik kekuatan serta juga kelemahan kedua vendor terdekat itu.

Ericsson

Bagi Ericsson, menjadi vendor terbesar di industri 5G, menjadi salah satu pengesahan bahwa perusahaan-perusahaan Eropa masih menjadi kiblat dari industri selular dunia.

Seperti kita ketahui, pasar jaringan telekomunikasi sebelumnya identik dengan vendor-vendor Eropa, khususnya negara-negara Skandinavia. Selama bertahun-tahun, pemain seperti Ericsson, Nokia, Alcatel Lucent (almarhum), Siemens (almarhum) telah menguasai bisnis jaringan sejak era 1G dan 2G.

Namun transisi teknologi ke 3G dan kemudian berlanjut ke 4G, mengubah peta pasar. Dimotori oleh Huawei dan ZTE, vendor China semakin agresif. Strategi harga lebih murah dibandingkan para lawan, membuat pamor vendor-vendor China secara cepat melejit.

Adil jika akhirnya mereka mampu mengambil kontrak di banyak negara, indah Asia Pasifik, Afrika, Eropa, GANDAR, Australia, hingga Amerika Latin. Walhasil, dengan memanfaatkan peluang pertumbuhan 4G, hanya dalam satu dekade lalu, Huawei mampu melibas Ericsson dan Nokia.

Berdasarkan masukan Dell’Oro Group, hingga semester mula-mula 2020, lima vendor jaringan teratas ditempati Huawei, Nokia, Ericsson, ZTE dan Cisco.

Biar tengah dalam tekanan AS, sebagai market leader , pangsa pasar Huawei justru meningkat menjadi 31% dari 28% dalam tahun lalu.

Nokia turun dari 16% tahun lalu menjadi 14%. Sedangkan Ericsson tentu bertahan di 14%. Di bagian lain, market share ZTE meningkat daripada 9% tahun lalu menjadi 11%. Vendor asal AS, Cisco mendarat dari 7% menjadi 6% pada jangka waktu yang serupa.

Meski saat ini pangsa rekan Nokia tidak berbeda dengan Ericsson, namun dari sisi kontrak 5G, Ericsson jauh mengungguli Nokia.

Dalam pernyataan resmi pada Agustus lalu, Ericsson mengumumkan sudah meraih perjanjian atau kontrak menguntungkan jaringan 5G ke-100 dengan penyedia layanan komunikasi di seluruh negeri.

Angka tersebut tercatat 58 kontrak yang diumumkan dengan publik dan 56 jaringan 5G yang sudah live di lima benua. Sementara Nokia pada Maret 2020, baru meraih 63 perikatan 5G komersial.

Biar telah meraih kontrak 5G secara signifikan, namun bukan rahasia sedang bahwa Ericsson masih terus berjuang secara finansial. Padahal sejak lima tahun terakhir, vendor yang berbasis di Stockholm itu, telah mengasaskan serangkaian pemotongan biaya dalam upaya untuk membalikkan penurunan tajam dalam kinerja keuangan.

Menetapkan menekan lonjakan biaya operasional, kongsi terpaksa melakukan rasionalisasi hingga 25. 000 pekerja di luar Swedia. Perusahaan juga memfokuskan kembali bisnisnya menjelang booming penyebaran teknologi 5G di pasar global.

Namun sejauh ini, kinerja Ericsson masih terbilang turun naik. Tak terkecuali pada tahun ini, saat dunia tengah menghadapi wabah corona. Tercatat pendapatan Ericsson turun sejumlah 2% menjadi SEK 49, 8 miliar pada Q1 2020 dipadankan dengan 48, 9 miliar dalam Q1 2019. Penjualan turun dalam setiap unit bisnis perusahaan melainkan jaringan, yang mencatat pertumbuhan nol, padahal sebelumnya mengalami peningkatan 10% pada kuartal tahun sebelumnya. Bagaikan bisnis lainnya, pandemi corona membuat kinerja Ericsson terpangkas.

CEO Ericsson Borje Ekholm, mengatakan bahwa pihaknya berusaha mempertahankan bahan pendapatan dan laba untuk tahun 2020 dan 2022, meskipun pandemi virus corona telah menyebar ke seluruh dunia.

“Kami tetap memandang positif pada prospek jangka panjang. Meski demikian kuartal kedua kemungkinan akan sedikit lebih lambat dari biasanya karena masa kontrak strategis dan ketidakpastian dengan disebabkan oleh Covid-19, ” sekapur Ekholm.

Walaupun mengharapkan peningkatan 10% di akhir tahun, serta pengeluaran berkelanjutan untuk peluncuran 5G oleh pelanggannya, Ericsson tidak dapat berbuat apa-apa tentang penundaan lelang spektrum di Eropa yang mau menghambat aktivitas bisnisnya di provinsi tersebut.

Satu diantara ketidakpastian adalah apakah COVID-19 akan memerosokkan penyedia layanan di bawah lagu penjualan untuk mengurangi investasi yang direncanakan di jaringan selular tahun ini.

Di negara2 yang melakukan lockdown, sebagian gede pertumbuhan lalu lintas data terjadi pada jaringan fixed broadband, dan beberapa operator mungkin tidak teristimewa melihat 5G sebagai prioritas tepat.

Huawei

Karena tekanan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya,   Huawei telah menghadapi banyak krisis global sejak beberapa tahun terakhir. Namun persoalan geopolitik tidak meninggalkan raksasa teknologi China itu untuk menikmati beberapa kesuksesan.

Vendor yang berbasis di Shenzen itu mengadukan pendapatan sebesar 454 miliar yuan (sekitar $ 64, 9 miliar) untuk paruh pertama 2020. Lahir sekitar 13, 1% lebih banyak dibandingkan 2019. Bahkan margin menyaruk bersih meningkat dari 8% menjelma 9, 2% selama periode itu.

Meskipun Huawei tidak merinci angka-angka yang saat itu belum diaudit, perusahaan yakin pandemi COVID-19 tidak merusak seperti yang terjadi pada perusahaan lain. Teknologi komunikasi dan informasi telah menjelma “alat penting” untuk memerangi virus dan memacu pemulihan ekonomi, sebutan perusahaan yang berbasis di Shenzen itu.

Bagaimana pula, dampak pandemi membuat kinerja perusahaan sedikit menurun. Pada kuartal 1-2020, Huawei hanya mencatat kenaikan penerimaan 1, 4% dari tahun ke tahun.

Pandemi telah memengaruhi seluruh industri selular, membuahkan perusahaan memperlambat produksi, menutup gardu ritel, dan kehilangan beberapa penjualan perangkat. Huawei tampaknya sangat terpukul selama kuartal pertama 2020, masa pandemi mencapai puncaknya di negeri asal perusahaan itu, China.

Perlu dicatat juga kalau penurunan itu terjadi di tengah tekanan terus-menerus dari AS. Secara alasan keamanan dan spionase, AS memperpanjang perintah larangan perdagangan terhadap Huawei hingga Mei 2021.

Langkah tegas AS lalu diikuti oleh Inggris dan Perancis. Kedua negara itu menganulir keputusan sebelumnya yang mengizinkan peralatan Huawei terlibat di bagian non-inti sejak jaringan 5G.

Begitu pun dengan Italia. Operator terbesar di negara sphageti itu, Telecom Italia telah mengeluarkan Huawei sejak tender peralatan 5G untuk jaringan inti yang sedang dipersiapkan buat dibangun di Italia dan Negeri brazil.

Bukan tidak agak-agak, negara-negara lain Eropa seperti Jerman dan Polandia akan mengikuti jejak yang sama. Padahal, pasar jaringan di kawasan Eropa selama ini menjadi sumber utama pendapatan Huawei.

Huawei telah membikin banyak peralatan yang digunakan di jaringan 2G, 3G, dan 4G di Inggris dan Eropa. Vendor dengan logo mirip bunga abang menyala itu, memegang 65% pangsa pasar jaringan akses nirkabel 2G dan 4G untuk operator EE (Everything Everywhere) di Inggris. Huawei juga menempati 50% pangsa rekan jaringan 2G, 3G dan 4G Vodafone, operator selular terbesar pada Eropa.

Tak bisa dipungkiri, bahwa hari-hari pertumbuhan pesat yang sebelumnya diraih oleh Huawei mungkin sudah berlalu. Patut dicatat, meskipun perusahaan meraih pertumbuhan 13, 1% pada semester pertama 2020, namun pencapaian itu jauh bertambah kecil dibandingkan lonjakan pendapatan sebesar 39% yang diraih setahun sebelumnya.

Tak dapat dipungkiri, aksi pemblokiran oleh pemerintah GANDAR membuat Huawei berada dalam lagu. Ketua rotasi Huawei Eric Xu, mengakui bahwa 2019 adalah tarikh paling sulit yang pernah dihadapi perusahaan.

Hal itu diperberat dengan adanya wabah virus corona yang mengganggu rantai pasokan. Xu memperkirakan pada 2020 dampaknya akan lebih keras, sehingga menghasilkan hampir mustahil untuk secara akurat memperkirakan kinerja perusahaan.

Sebelumnya di dalam Juni 2019, pendiri dan CEO Huawei Ren Zhengfei, memperingatkan bahwa berbagai pembatasan oleh AS akan memangkas hingga USD30 miliar potensi pendapatan selama dua tahun ke depan. Reng pun memprediksi, revenue perusahaan diperkirakan akan anjlok menjelma sekitar US$ 100 miliar di 2020.

Meski didera virus corona dan sulit muncul dari tekanan AS, Ren menegaskan bahwa hal itu tidak menekan upaya perusahaan untuk mengembangkan teknologi sendiri, sekaligus mengurangi ketergantungan di impor AS.

Tersebut sebabnya, Ren mengatakan bahwa Huawei akan kembali meningkatkan anggaran penelitian dan pengembangan (R& D) di dalam 2020 sebesar $ 5 miliar menjadi lebih dari $ 20 miliar. Angka itu, bakal menempatkan Huawei sebagai perusahaan terbesar kedua di dunia dalam alokasi investasi R& D.

Sekedar diketahui, investasi R& D manusia besar teknologi China itu pada 2018 sudah menempati peringkat ke-4 diantara perusahaan teknologi global. Melampaui Microsoft, Apple dan Intel.

Menurut statistik Uni Eropa, investasi litbang Huawei pada 2018 sejumlah 101, 5 miliar yuan ($ 15, 1 miliar). Meninggalkan Samsung, Google, dan Volkswagen.
Sepanjang 2018, perusahaan meraih 721, 2 miliar yuan dalam pendapatan penjualan global, menghabiskan 14, 1 komisi dari total pendapatan untuk anggaran R& D.

Pada 2019, ditengah tekanan yang semakin kuat dari AS dan sekutu-sekutunya, pengeluaran litbang Huawei meningkat 30 persen menjadi CNY131, 7 miliar, atau 15, 3 persen dari total pendapatan. Tercatat total berterima R& D Huawei dalam sepuluh tahun hingga akhir 2019 telah melebihi CNY600 miliar.

Investasi sebesar itu diklaim telah membantu Huawei mempertahankan posisi terdahulu dalam teknologi 5G. Pada asal Februari 2020, Huawei menyebutkan sudah menandatangani 91 kontrak 5G menguntungkan dan mengirimkan lebih dari 600. 000 unit antena aktif 5G ke berbagai negara.

Meski Huawei meyakini dapat menyalahi tekanan AS, namun tak sanggup dipungkiri bahwa kinerja perusahaan sudah melambat. Tanpa akses ke rekan startegis seperti Eropa dan AS, perusahaan mungkin tidak memiliki penuh ruang untuk tumbuh.

Pencapaian pada kuartal pertama 2020, telah menunjukkan hal tersebut. Terekam pendapatan naik hanya 1, 4%, turun tajam dibandingkan peningkatan 39% setahun sebelumnya. Laba bersih pada raksasa China itu juga turun hampir 8%, menjadi hanya kira-kira $ 1, 9 miliar.

Bermaslahat, Huawei masih dapat mengandalkan pasar domestik. Pasca peluncuran komersial di Oktober 2019, China saat ini tengah berpacu dengan penyebaran 5G-nya sendiri.

Sebagai distributor domestik terbesar, Huawei kemungkinan akan menjadi penerima manfaat utama. Perusahaan telah mendapatkan sekitar 58% dari tender China Mobile senilai sekitar $ 5, 2 miliar.

Dengan China menargetkan peluncuran sekitar setengah juta mobile base station 5G pada akhir 2020, China Telecom dan China Unicom, besar operator nasional lainnya, diharapkan mengumumkan kontrak multi-miliar dolar pada waktunya.

Namun pencapaian yang luar biasa di dalam jati tak ada artinya jika pasar global menjadi terbatas. Apa boleh buat, jika AS tidak meredakan tekanannya, Huawei terancam jadi “Jago Kandang”.